“Medan pertempuran modern tidak lagi hanya berbicara tentang darat, laut, dan udara. Militer Amerika Serikat kini menyebut ruang operasi yang harus dipersiapkan membentang dari dasar laut hingga cislunar space, wilayah luas antara Bumi dan Bulan. Perubahan ini menunjukkan bagaimana teknologi dan aktivitas antariksa semakin masuk dalam kalkulasi pertahanan negara-negara besar.”
biztelegraph – Militer Amerika Serikat mulai berbicara semakin terbuka mengenai persiapan menghadapi konflik dalam medan operasi yang jauh lebih luas. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan pasukan gabungan AS perlu siap menghadapi lingkungan yang diperebutkan mulai dari dasar laut hingga cislunar space. Pernyataan itu disampaikan dalam Air, Space & Cyber Conference di National Harbor, Maryland, pada 16 September 2026.
Cislunar space secara umum merujuk pada wilayah ruang angkasa antara Bumi dan Bulan, meskipun definisi teknis mengenai batasnya dapat berbeda. Pernyataan Caine tidak berarti perang di permukaan Bulan sudah direncanakan atau akan segera terjadi. Defense One mencatat Caine tidak menjelaskan secara spesifik apakah pernyataannya juga mencakup operasi tempur di permukaan Bulan.
Namun, pesan strategisnya cukup clear: militer AS melihat medan operasi masa depan tidak lagi terbatas pada domain tradisional. Dalam pernyataan tertulis kepada Kongres pada April 2026, Caine juga menyebut medan pertempuran modern telah berkembang dari dasar laut hingga wilayah cislunar. Artinya, konsep tersebut bukan sekadar catchy phrase yang muncul dalam satu konferensi, melainkan sudah masuk dalam pembahasan strategis militer AS.
Militer AS Bicara Perang dari Dasar Laut hingga Cislunar Space
Caine mengatakan pasukan gabungan AS harus beradaptasi agar mampu bertempur, bertahan, dan menang dalam lingkungan global yang diperebutkan, dari seabed sampai cislunar space. Ia juga memperingatkan bahwa konflik masa depan tidak dapat dibangun dengan asumsi bahwa akses akan selalu bebas dari gangguan atau jalur pendukung operasi akan selalu tersedia. Dengan kata lain, future battlefield dinilai semakin luas sekaligus semakin kompleks.
Konsep tersebut mencerminkan perubahan besar dibandingkan gambaran perang konvensional. Selama bertahun-tahun, operasi militer umumnya dibicarakan melalui domain darat, laut, dan udara, kemudian berkembang dengan masuknya ruang angkasa dan dunia siber. Kini, perkembangan teknologi membuat batas antar-domain tersebut semakin interconnected.
Satelit, misalnya, bukan hanya benda yang berada jauh di orbit dan terpisah dari pertempuran di Bumi. Infrastruktur antariksa mendukung komunikasi, navigasi, peringatan dini, pengamatan, dan berbagai kebutuhan operasi militer. Karena ketergantungan tersebut, kemampuan mempertahankan akses terhadap ruang angkasa menjadi semakin penting bagi kekuatan militer modern.
Apa Itu Cislunar Space?
Istilah cislunar space menjadi salah satu bagian paling menarik dari pernyataan Caine. Secara luas, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan wilayah yang membentang dari sekitar Bumi menuju Bulan dan kawasan di sekitarnya. Luasnya jauh melampaui orbit rendah Bumi yang saat ini menjadi lokasi banyak satelit dan aktivitas manusia.
Defense One mencatat terdapat nuansa dalam definisi apakah cislunar mencakup permukaan Bulan itu sendiri. Beberapa dokumen pemerintah AS memasukkan lunar surface dalam pembahasan cislunar, sementara dokumen teknis lainnya membedakan ruang cislunar dari permukaan Bulan. Karena itu, pernyataan bahwa militer AS sedang secara spesifik mempersiapkan “perang di permukaan Bulan” akan melampaui apa yang benar-benar dikatakan Caine.
Yang lebih jelas adalah perhatian AS terhadap aktivitas di ruang yang semakin jauh dari Bumi. Kepala Operasi Antariksa AS Jenderal Douglas Schiess mengatakan pada konferensi yang sama bahwa Space Force harus menghadapi kebutuhan domain yang semakin diperebutkan dan meluas dari low Earth orbit sampai cislunar space. Space Force karena itu berfokus meningkatkan kemampuan, personel, dan kapasitasnya.
U.S. Space Force dibentuk pada 2019 dan kini menjadi bagian sentral dari strategi militer Amerika di ruang angkasa. Berbeda dari gambaran sci-fi mengenai pasukan yang bertempur menggunakan spacecraft, sebagian besar kemampuan militer ruang angkasa saat ini berkaitan dengan satelit, sensor, komunikasi, pengawasan, navigasi, missile warning, dan space domain awareness. Space Force juga mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan kepentingan AS di domain tersebut.
Salah satu prioritasnya adalah meningkatkan kemampuan untuk mengetahui apa yang terjadi di orbit. Pada April 2026, Space Force mengumumkan upgrade Ground-Based Optical Sensor System atau GBOSS di Maui Space Surveillance Complex. Upgrade tersebut menggandakan field of view dan kecepatan pencarian sekaligus meningkatkan sensitivitas lebih dari tiga kali lipat.
Menurut Space Force, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk mencari dan mendeteksi objek kecil maupun ancaman yang sulit terlihat pada Medium Earth Orbit, Geostationary Orbit, High Earth Orbit, hingga orbit cislunar. Fasilitas GEODSS di New Mexico juga telah menerima upgrade serupa. Jadi, ekspansi perhatian ke ruang cislunar tidak hanya muncul dalam speech, tetapi juga terlihat dalam investasi sensor dan space domain awareness.
Amerika Serikat pada saat yang sama sedang membangun arsitektur satelit militer yang semakin terdistribusi. Space Development Agency atau SDA mengembangkan Proliferated Warfighter Space Architecture (PWSA) untuk menyediakan berbagai kemampuan berbasis ruang angkasa kepada pasukan gabungan. Arsitektur tersebut mencakup lapisan komunikasi, tracking, battle management, custody, navigasi, serta ground and launch.
Transport Layer, misalnya, dirancang untuk menyediakan konektivitas data dan komunikasi militer global dengan latensi rendah. Tracking Layer ditujukan untuk memberikan indikasi, peringatan, tracking, dan targeting terhadap ancaman rudal canggih, termasuk sistem hipersonik. Sementara Battle Management Layer mendukung command and control serta penyebaran data untuk operasi militer yang sensitif terhadap waktu.
Pada Juli 2026, SDA mengatakan lebih dari 60 satelit Transport Layer Tranche 1 telah berada di orbit setelah peluncuran ketiganya. Pendekatan menggunakan banyak satelit membuat arsitektur ruang angkasa menjadi lebih tersebar dibandingkan ketergantungan pada sejumlah kecil aset bernilai tinggi. Tujuannya termasuk meningkatkan resilience ketika menghadapi lingkungan ruang angkasa yang semakin contested.
Kenapa AS Mulai Melirik Ruang Bumi-Bulan?

Salah satu alasan yang dikemukakan pejabat Space Force adalah meningkatnya aktivitas negara lain di ruang angkasa. Lt. Gen. Gregory Gagnon dari Space Force Combat Forces Command mengatakan kepada wartawan bahwa calon adversary seperti China aktif mengejar aktivitas di bagian cislunar space. Space Force karena itu meningkatkan perhatian terhadap kemampuan untuk memonitor aktivitas di kawasan tersebut.
Space Force sendiri dalam lembar fakta ancaman antariksa per Juli 2026 menyatakan China dan Rusia sedang mengembangkan kemampuan counterspace yang dapat mengganggu atau menurunkan kemampuan ruang angkasa AS. Dokumen tersebut menyebut China memiliki lebih dari 500 satelit yang mampu menjalankan fungsi intelligence, surveillance, dan reconnaissance serta sedang memperluas konstelasi komunikasinya. Perlu dicatat bahwa ini merupakan penilaian resmi pemerintah AS mengenai ancaman, sehingga klaim tersebut mencerminkan perspektif keamanan Washington.
China juga memiliki program eksplorasi Bulan yang semakin berkembang. Space Force mencatat misi Chang’e-7 sebagai bagian dari roadmap China menuju keberadaan robotik dan kemudian manusia yang berkelanjutan di Bulan. Namun, keberadaan program eksplorasi Bulan sipil atau ilmiah tidak dengan sendirinya membuktikan rencana operasi militer di Bulan.
Dari Ruang Angkasa, Sekarang Turun ke Dasar Laut
Bagian “seabed” dalam pernyataan Caine juga penting karena dasar laut menjadi lingkungan strategis tersendiri. Infrastruktur komunikasi global sangat bergantung pada kabel bawah laut, sementara kapal selam dan berbagai sistem bawah laut menjadi bagian penting dari operasi militer. Perkembangan autonomous underwater vehicles juga membuat domain bawah laut semakin technology-heavy.
U.S. Naval Research Laboratory menggambarkan lingkup risetnya sebagai pengembangan teknologi untuk Angkatan Laut dan Korps Marinir AS dari dasar laut hingga ruang angkasa dan domain informasi. Di sisi lain, dokumen riset Angkatan Laut AS juga menunjukkan perhatian terhadap sensor bawah laut, pemetaan dasar laut, komunikasi, sistem robotik, serta kemampuan navigasi di lingkungan tanpa GPS.
Dengan demikian, frasa “seabed to cislunar” dapat dipahami sebagai gambaran mengenai luasnya medan operasi modern. Bukan berarti semua wilayah tersebut akan menjadi lokasi pertempuran secara bersamaan. Rather, militer AS sedang mempersiapkan kemampuan untuk beroperasi ketika teknologi dan ancaman dapat datang dari berbagai domain yang saling terhubung.
Apakah AS Sudah Menempatkan Senjata di Ruang Angkasa?
Perkembangan lain yang menjadi perhatian adalah pernyataan pejabat AS mengenai kemampuan space control yang telah ditempatkan di orbit. Associated Press melaporkan bahwa Air Force Secretary Troy Meink mengungkap AS telah menempatkan senjata berbasis ruang angkasa untuk pertama kalinya. Namun, detail mengenai sistem tersebut sangat terbatas di ranah publik.
Defense One mencatat para ahli menduga kemampuan yang dimaksud kemungkinan bersifat non-kinetik, seperti jamming atau electronic warfare, tetapi Pentagon belum memberikan detail lengkap. Ketika ditanya mengenai kebijakan penggunaan senjata kinetik di ruang angkasa, Gagnon menyerahkan pertanyaan tersebut kepada bagian kebijakan. Karena itu, tidak tepat mengasumsikan bahwa AS telah menempatkan rudal atau senjata penghancur satelit secara kinetik di orbit berdasarkan informasi publik yang tersedia.
Perbedaan ini penting karena istilah “space weapon” dapat mencakup beragam teknologi. Kemampuan untuk mengganggu komunikasi elektronik tentu berbeda secara teknis dan konsekuensi dengan senjata yang menghancurkan satelit secara fisik dan menghasilkan debris. Detail capability matters ketika membaca perkembangan militer di ruang angkasa.
Aktivitas militer di ruang angkasa tidak berlangsung dalam legal vacuum. Outer Space Treaty 1967 menjadi fondasi utama hukum internasional mengenai aktivitas negara di ruang angkasa. Perjanjian tersebut melarang penempatan senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah massal lainnya di orbit, benda langit, maupun ruang angkasa dengan cara tertentu.
Treaty tersebut juga menyatakan Bulan dan benda langit lainnya harus digunakan secara eksklusif untuk tujuan damai. Ketentuan Article IV melarang pembangunan pangkalan dan instalasi militer, pengujian senjata, serta pelaksanaan manuver militer pada benda langit. Namun, penggunaan personel militer untuk penelitian ilmiah atau tujuan damai lainnya tidak dilarang.
Aturannya menjadi lebih nuanced ketika membahas ruang angkasa di luar permukaan benda langit. Outer Space Treaty secara khusus melarang senjata pemusnah massal di orbit, tetapi tidak merupakan larangan komprehensif terhadap setiap bentuk kemampuan militer konvensional di seluruh ruang angkasa. Perdebatan mengenai bagaimana hukum internasional harus merespons perkembangan teknologi counterspace karena itu masih sangat relevan.
Pernyataan Caine tidak dapat dibaca sebagai prediksi bahwa perang di Bulan pasti akan terjadi. Ia berbicara mengenai kebutuhan pasukan AS untuk bersiap menghadapi lingkungan operasi yang semakin luas dan contested. Detail mengenai seperti apa operasi tempur di cislunar space juga belum dijelaskan secara terbuka.
Yang sudah terlihat lebih konkret adalah peningkatan kemampuan pengawasan ruang angkasa, pembangunan konstelasi satelit yang lebih resilient, pengembangan space control, dan perhatian terhadap aktivitas hingga orbit cislunar. Pada saat yang sama, China dan Rusia juga mengembangkan berbagai kemampuan antariksa, sementara AS melihat perkembangan tersebut melalui perspektif strategic competition.
Jadi, headline mengenai “perang sampai Bulan” memang terdengar very sci-fi, tetapi realitasnya lebih complicated. Fokus saat ini lebih banyak berkaitan dengan kemampuan melihat, berkomunikasi, mempertahankan infrastruktur, menjaga akses, dan menghadapi kemungkinan gangguan terhadap sistem ruang angkasa. Pertempuran ala film dengan pasukan bersenjata di permukaan Bulan belum menjadi sesuatu yang diumumkan AS.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa konsep pertahanan modern semakin bergeser menuju multi-domain operations. Sebuah operasi di laut atau darat dapat bergantung pada komunikasi satelit, data pengawasan, navigasi, sistem siber, dan jaringan yang tersebar di berbagai wilayah. Gangguan terhadap salah satu bagian dapat memberikan efek terhadap bagian lainnya.
Karena itu, persaingan militer modern tidak lagi semata-mata mengenai siapa yang memiliki paling banyak pesawat, kapal, atau kendaraan tempur. Sensor, jaringan komunikasi, satelit, artificial intelligence, cyber capability, dan autonomous systems semakin masuk dalam strategic equation. Negara yang mampu menghubungkan seluruh kemampuan tersebut berpotensi memiliki keunggulan informasi dan pengambilan keputusan.
Pernyataan “dari dasar laut hingga cislunar space” pada akhirnya menggambarkan perubahan tersebut. Medan strategis yang diperhitungkan militer AS kini membentang dari salah satu lingkungan terdalam di planet ini hingga ratusan ribu kilometer menuju Bulan. Sounds futuristic, tetapi sebagian infrastrukturnya sudah mulai dibangun sekarang.
Militer Amerika Serikat sedang mempersiapkan diri menghadapi medan operasi yang semakin luas, termasuk wilayah cislunar antara Bumi dan Bulan. Jenderal Dan Caine menegaskan Joint Force perlu mampu beroperasi dan bertahan dalam lingkungan contested dari dasar laut hingga cislunar space. Pernyataan serupa juga telah muncul dalam dokumen kesaksian militernya kepada Kongres pada April 2026.
Namun, perkembangan tersebut tidak berarti AS telah mengumumkan rencana menggelar perang di permukaan Bulan. Fokus konkret yang terlihat saat ini antara lain peningkatan space domain awareness, pengembangan jaringan satelit yang lebih resilient, kemampuan space control, dan kesiapan menghadapi ancaman terhadap infrastruktur antariksa. Pada saat yang sama, seluruh perkembangan tersebut berada dalam konteks kompetisi strategis sekaligus batas-batas hukum internasional yang dibentuk antara lain oleh Outer Space Treaty.
The bigger picture-nya adalah perang modern semakin bergantung pada teknologi yang menghubungkan berbagai domain. Laut, udara, darat, siber, dasar laut, dan ruang angkasa tidak lagi dapat selalu dipandang sebagai arena yang berdiri sendiri. Dari seabed sampai wilayah antara Bumi dan Bulan, strategi pertahanan masa depan tampaknya semakin multidomain—and definitely jauh lebih kompleks.
Referensi
- Associated Press. “US troops must prepare to fight around the moon, Trump’s top military adviser says.” 16 September 2026.
- Stars and Stripes. “America’s troops must prepare now for warfare on moon, top general says.” 17 September 2026.
- Defense One. “The Pentagon must prepare for battles around the moon: Joint Chiefs chair.” 16 September 2026.
- U.S. Senate Committee on Armed Services. Kesaksian Department of Defense, 30 April 2026.
- U.S. Space Force. Remarks by Chief of Space Operations Gen. Douglas Schiess at the 2026 Air, Space & Cyber Conference. September 2026.
- U.S. Space Force Combat Forces Command. “Visibility in space magnified: U.S. Space Force domain awareness upgrade…” 14 April 2026.
- U.S. Space Force. Space Threat Fact Sheet, current as of July 2026.
- Space Development Agency. Proliferated Warfighter Space Architecture and Capability Layers. U.S. Department of Defense.
- United Nations. Outer Space – International Space Law and the Outer Space Treaty.
- United Nations Office of Legal Affairs. Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies.












