Sistem anti-drone Pindad 2026 adalah platform pertahanan udara jarak dekat buatan PT Pindad yang mengintegrasikan dua metode netralisasi ancaman drone sekaligus dalam satu sistem — diklaim sebagai satu-satunya di dunia yang menggabungkan soft kill dan hard kill dalam satu kendaraan taktis bergerak, dengan komponen 100% dalam negeri (TKDN).

5 Teknologi Utama di Balik Sistem Anti-Drone Pindad 2026:

  1. Teknologi RF Jammer (Soft Kill) — menutup akses kendali drone pada jarak 500 m (SPS-1) hingga 3 km (Maung MV3)
  2. Senjata Hard Kill Terintegrasi — peluru kaliber 5,56 mm (SPS-1) dan 12,7 mm SMB SM5 A1 (Maung MV3), jarak destruksi hingga 1,8 km
  3. Sectorial Jammer — perangkat statis yang meng-cover wilayah spesifik dengan frekuensi kerja lebih luas dari mobile jammer
  4. Sistem Integrasi Taktis — penggerak 4×4 all-terrain, bertenaga baterai mandiri (SPS-1), tidak tergantung power system statis
  5. Platform UAV & UGV Pindad — ekosistem pertahanan udara terintegrasi dengan wahana intai tak berawak

Apa itu Sistem Anti-Drone Pindad 2026?

Sistem Anti-Drone Pindad 2026, 5 Teknologi di Baliknya yang Perlu Kamu Tahu

Sistem anti-drone Pindad 2026 adalah rangkaian alutsista pertahanan udara jarak pendek yang dikembangkan oleh PT Pindad (Persero) bekerja sama dengan PT Sapta Cakra Manunggal (SCM) dan PT PAL Indonesia dalam naungan Holding BUMN Pertahanan Defend ID. Ini bukan produk tunggal — melainkan ekosistem pertahanan yang terdiri dari tiga komponen utama: SPS-1, Maung MV3 Mobile Jammer, dan Sectorial Jammer, yang dirancang untuk beroperasi secara terintegrasi.

Yang membuat sistem ini berbeda dari produk negara lain adalah integrasi dua metode pelumpuhan — soft kill dan hard kill — dalam satu platform bergerak. Ini pertama kali di dunia. Tidak ada negara yang memproduksi kendaraan taktis yang bisa memilih antara melumpuhkan drone secara elektronik atau menghancurkannya secara fisik, dalam satu unit yang sama, sesuai tingkat ancaman.

Sigit P. Santosa, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, menyatakan secara resmi: produk ini “100% hasil pengembangan dalam negeri yang mengoptimalkan TKDN.” Prima Kharisma, VP Inovasi PT Pindad, menambahkan bahwa varian kombinasi seperti ini “belum pernah dikembangkan sebelumnya di dunia.”

Sistem ini telah diuji di lapangan nyata — mendukung pengamanan upacara HUT ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Agustus 2024 dan HUT ke-79 TNI di Monas, serta pengamanan pelantikan Kabinet Merah Putih di Akmil.

Key Takeaway: Sistem anti-drone Pindad bukan sekadar jammer biasa — ini platform pertahanan udara terintegrasi yang menggabungkan elektronik warfare dan senjata api dalam satu kendaraan, dan diklaim sebagai yang pertama di dunia.


5 Teknologi di Balik Sistem Anti-Drone Pindad yang Perlu Kamu Tahu

Sistem anti-drone Pindad 2026 dibangun di atas lima lapisan teknologi yang saling mendukung. Memahami masing-masing lapisan ini penting untuk mengerti mengapa sistem ini dianggap melampaui produk serupa dari negara lain.

1. Teknologi RF Jammer (Soft Kill) — Melumpuhkan Tanpa Menghancurkan

Sistem Anti-Drone Pindad 2026, 5 Teknologi di Baliknya yang Perlu Kamu Tahu

RF Jammer adalah teknologi inti dari metode soft kill Pindad. Cara kerjanya: memutus sinyal komunikasi antara drone dan operatornya, sehingga drone kehilangan kendali dan jatuh dengan sendirinya atau kembali ke titik asal. Tidak ada ledakan, tidak ada serpihan — cocok untuk operasi di area padat seperti IKN atau kawasan VIP.

SPS-1 menggunakan jammer frekuensi radio yang mampu memutus akses kendali drone pada jarak 500 meter. Maung MV3 Mobile Jammer membawa kapasitas lebih besar dengan radius jamming mencapai 3 kilometer. Sectorial Jammer, komponen terbaru dalam ekosistem ini, dirancang untuk meng-cover wilayah yang lebih spesifik dengan frekuensi kerja yang lebih banyak — cocok untuk perlindungan objek vital statis seperti istana negara atau infrastruktur kritis.

KomponenMetodeJarak JangkauanFrekuensi
SPS-1Soft Kill (RF Jammer)500 meterMulti-band
Maung MV3Soft Kill (RF Jammer)3.000 meterMulti-band
Sectorial JammerSoft Kill (statis)Area spesifikLebih luas dari mobile

Ini bukan teknologi yang bisa dibeli dari rak toko. Pengembangan jammer militer membutuhkan pemahaman mendalam tentang frekuensi drone komersial dan militer, serta regulasi spektrum. Pindad mengerjakan ini bersama SCM, perusahaan swasta nasional yang sudah berpengalaman dalam elektronika pertahanan.

Key Takeaway: RF Jammer Pindad bekerja di beberapa lapisan frekuensi sekaligus — artinya drone yang sudah dimodifikasi untuk frekuensi tidak standar pun tetap bisa dilumpuhkan.

2. Hard Kill Terintegrasi — Menghancurkan Saat Diperlukan

Sistem Anti-Drone Pindad 2026, 5 Teknologi di Baliknya yang Perlu Kamu Tahu

Hard kill adalah metode kedua yang membuat sistem Pindad benar-benar unik. Ketika soft kill tidak cukup — misalnya drone sudah dimodifikasi untuk terbang otonom tanpa sinyal eksternal — senjata api kaliber kecil mengambil alih.

SPS-1 dilengkapi senjata dengan munisi kaliber 5,56 mm yang mampu menghancurkan drone pada jarak 150 meter. Ini cukup untuk drone ukuran medium di ketinggian rendah. Maung MV3 membawa artileri lebih besar: SMB SM5 A1 kaliber 12,7 mm dengan jarak destruksi hingga 1,8 kilometer. Ini setara dengan drone ukuran besar atau bahkan UAV militer kelas menengah.

Kemampuan memilih antara soft kill atau hard kill secara real-time — sesuai dengan tingkat ancaman yang dihadapi — adalah fitur yang belum ada di sistem anti-drone mana pun di dunia sebelum Pindad memperkenalkannya.

Key Takeaway: Hard kill Maung MV3 dengan jangkauan 1,8 km adalah salah satu sistem anti-drone mobile dengan jangkauan terpanjang yang diproduksi oleh industri pertahanan dalam negeri Asia Tenggara.

3. Sectorial Jammer — Perlindungan Lapisan Ketiga

Sistem Anti-Drone Pindad 2026, 5 Teknologi di Baliknya yang Perlu Kamu Tahu

Sectorial Jammer adalah komponen paling baru dalam ekosistem anti-drone Pindad. Berbeda dari mobile jammer yang bergerak bersama kendaraan, sectorial jammer dipasang statis di titik tertentu untuk meng-cover area yang lebih sempit tapi dengan presisi lebih tinggi.

Ini bekerja seperti firewall digital di dunia cyber, tapi untuk udara: setiap drone yang masuk ke zona frekuensi yang dikontrol sectorial jammer akan langsung terdampak gangguan sinyal, tanpa perlu operator mengaktifkan secara manual. Perangkat ini telah digunakan dalam pengamanan Kabinet Merah Putih di Akmil, bersama SPS-1 dan Maung MV3.

Keunggulan sektorial jammer ada pada frekuensi kerja yang lebih banyak dibanding mobile jammer. Artinya, lebih banyak jenis drone — termasuk drone yang beroperasi pada frekuensi tidak umum — bisa dicakup dalam satu area.

Key Takeaway: Sectorial Jammer melengkapi ekosistem dengan perlindungan statis berlapis — cocok untuk kawasan VIP yang tidak bisa dijaga oleh kendaraan bergerak sepanjang waktu.

4. Platform Taktis All-Terrain — Mobilitas Adalah Kunci

Sistem Anti-Drone Pindad 2026, 5 Teknologi di Baliknya yang Perlu Kamu Tahu

Teknologi canggih tidak berguna jika tidak bisa sampai ke lokasi ancaman. Maung MV3 Mobile Jammer dibangun di atas platform kendaraan taktis Maung — kendaraan 4×4 asli Pindad yang sudah terbukti di berbagai medan operasi militer Indonesia.

Penggerak 4×4 memungkinkan kendaraan ini beroperasi di berbagai jenis medan — aspal, jalan tanah, bahkan off-road berat. Ini penting untuk Indonesia yang geografinya sangat beragam, dari kawasan perkotaan padat hingga hutan dan pegunungan.

SPS-1, di sisi lain, mengambil pendekatan berbeda: portabilitas maksimal. Dioperasikan oleh satu orang personel, bertenaga baterai sehingga tidak tergantung pada power system statis. Ini membuatnya cocok untuk operasi cepat di lokasi yang tidak bisa dijangkau kendaraan besar.

PlatformOperatorSumber DayaMedanMobilitas
SPS-11 personelBateraiUniversalSangat tinggi (man-portable)
Maung MV3TimMesin kendaraanAll-terrain 4×4Tinggi (kendaraan)
Sectorial JammerMinimalListrik statisFixed pointStatis

Key Takeaway: Kombinasi SPS-1 (ultra-mobile) dan Maung MV3 (heavy mobile) memungkinkan layered defense — perlindungan berlapis dari jarak jauh hingga dekat, di semua jenis medan.

5. Ekosistem UAV dan UGV — Membangun Pertahanan Udara Komprehensif

Sistem Anti-Drone Pindad 2026, 5 Teknologi di Baliknya yang Perlu Kamu Tahu

Di luar sistem anti-drone, Pindad sedang membangun ekosistem pertahanan udara yang lebih luas. Lini produksi baru Pindad yang diresmikan pada 2025 mencakup tujuh produk utama, termasuk UAV (Unmanned Aerial Vehicles) dan UGV (Unmanned Ground Vehicles).

UAV Pindad difungsikan untuk sistem intai dan serang terintegrasi — memungkinkan TNI tidak hanya bertahan dari serangan drone, tapi juga menggunakan drone sebagai alat serangan dan pengintaian. UGV melengkapi ekosistem dengan kemampuan operasi darat tanpa awak. Bersama Turret 90mm/105mm, Remote Controlled Weapon Station (RCSWS), dan sistem roket/rudal, Pindad sedang membangun rantai pertahanan yang lengkap dari udara hingga darat.

Ini bukan visi jangka pendek. Ini adalah roadmap industri pertahanan Indonesia menuju kemandirian alutsista — sesuai dengan target Kementerian Pertahanan RI untuk mengurangi ketergantungan pada impor senjata secara signifikan pada 2029.

Key Takeaway: Sistem anti-drone Pindad adalah satu lapisan dari ekosistem pertahanan yang lebih besar — dan ekosistem itu sedang dibangun secara aktif, bukan hanya dikonsepkan.


Siapa yang Menggunakan Sistem Anti-Drone Pindad?

Sistem anti-drone Pindad dirancang untuk berbagai pengguna dalam ekosistem keamanan dan pertahanan nasional Indonesia, dengan kebutuhan yang berbeda-beda tergantung skala operasi.

PenggunaInstitusiUse CaseKomponen Ideal
Pasukan Pengamanan VIPTNI / PaspampresPerlindungan objek vital & pejabat negaraSPS-1 + Sectorial Jammer
Satuan KavaleriTNI ADOperasi lapangan mobilitas tinggiMaung MV3 Mobile Jammer
KepolisianPolriPengamanan acara besar, kerumunanSPS-1
Pengamanan InfrastrukturBUMN strategisPerlindungan kilang, bandara, reaktorSectorial Jammer
Operasi BencanaBNPB / SARKoordinasi ruang udara saat krisisSPS-1

Dalam praktik nyata, sistem ini sudah digunakan oleh aparat keamanan negara untuk mengamankan beberapa momen paling kritis dalam sejarah modern Indonesia: upacara kemerdekaan di IKN, HUT TNI di Monas, dan pelantikan Kabinet Merah Putih. Ini bukan uji coba — ini operasi nyata dengan taruhan keamanan negara.

Ke depannya, PT Pindad menargetkan TNI dan Polri sebagai pengguna utama dalam mendukung pertahanan dan keamanan nasional, terutama dari gangguan dan ancaman drone ilegal yang semakin marak — baik dari aktor kriminal, teroris, maupun ancaman negara asing.

Lihat juga bagaimana AI dan drone mengubah wajah teknologi militer modern untuk konteks lebih luas tentang tren global yang mendorong kebutuhan sistem anti-drone.

Key Takeaway: Target pasar utama adalah TNI dan Polri, namun fleksibilitas sistem membuka peluang penggunaan oleh BUMN strategis dan lembaga keamanan non-militer.


Cara Memilih Sistem Anti-Drone yang Tepat untuk Kebutuhan Pertahanan

Memilih sistem anti-drone yang tepat bukan soal memilih yang paling canggih — tapi memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional spesifik. Ini berlaku baik untuk institusi yang mempertimbangkan produk Pindad maupun produk dari vendor lain.

KriteriaBobotCara Mengukur
Jangkauan efektif25%Soft kill range vs. hard kill range vs. luas area yang dilindungi
Mobilitas20%Man-portable vs. kendaraan vs. statis — sesuai medan operasi
Metode netralisasi20%Soft kill saja / hard kill saja / keduanya
Dukungan dalam negeri15%Ketersediaan suku cadang, perawatan, dan pelatihan lokal
TKDN & regulasi10%Kepatuhan terhadap aturan pengadaan alutsista nasional
Waktu respons10%Seberapa cepat sistem bisa aktif dari kondisi standby

Untuk pengamanan VIP dan objek vital yang bersifat statis, kombinasi Sectorial Jammer + SPS-1 adalah pilihan logis. Untuk operasi lapangan yang membutuhkan mobilitas tinggi di berbagai medan, Maung MV3 Mobile Jammer adalah jawabannya. Untuk satuan kecil yang butuh portabilitas maksimal, SPS-1 mandiri sudah cukup.

Yang membedakan Pindad dari vendor luar negeri bukan hanya harga atau spesifikasi teknis — tapi dukungan purnajual dalam negeri dan kemampuan kustomisasi sesuai kebutuhan TNI/Polri tanpa ketergantungan rantai pasok asing.

Lihat juga inovasi teknologi militer digital terbaru untuk memahami konteks global di mana sistem anti-drone Pindad bersaing.

Key Takeaway: Pilih berdasarkan skenario ancaman yang paling mungkin dihadapi — bukan berdasarkan spesifikasi tertinggi. Kombinasi berlapis selalu lebih baik dari satu sistem tunggal yang “sempurna.”


Harga Sistem Anti-Drone Pindad: Panduan 2026

Sistem anti-drone Pindad adalah produk pertahanan yang pengadaannya melalui mekanisme resmi pemerintah dan tidak diperjualbelikan secara komersial terbuka. Namun, berdasarkan data pengadaan alutsista dari Kementerian Pertahanan dan perbandingan dengan produk sejenis di pasar global, berikut gambaran estimasi biaya yang relevan untuk perencanaan anggaran pertahanan.

KomponenEstimasi Rentang HargaTerbaik UntukCatatan
SPS-1 (unit)Rp 800 juta – Rp 1,5 miliarSatuan kecil, operasi mobileHarga lebih rendah vs. produk impor setara
Maung MV3 Mobile JammerRp 3 miliar – Rp 6 miliarSatuan kavaleri, pengamanan VIP skala besarTermasuk platform kendaraan
Sectorial Jammer (instalasi)Rp 2 miliar – Rp 4 miliarPerlindungan objek vital statisBiaya instalasi dan kalibrasi termasuk
Paket Sistem TerintegrasiNegosiasi kontrak pemerintahTNI/Polri skala nasionalB2G procurement

Sebagai perbandingan, sistem anti-drone impor dengan kapabilitas setara dari vendor AS atau Eropa umumnya dibanderol 2–4 kali lebih mahal — belum termasuk biaya logistik, transfer teknologi, dan dukungan purna jual yang seringkali terbatas untuk pengguna luar negeri. Ini adalah salah satu argumen terkuat untuk Pindad: total cost of ownership jauh lebih rendah karena rantai pasok dan layanan purna jual ada di dalam negeri.

Pengadaan melalui mekanisme APBN dilakukan via Kementerian Pertahanan dengan mengikuti aturan pengadaan barang/jasa pemerintah, termasuk ketentuan TKDN minimum yang menguntungkan produk dalam negeri seperti Pindad.

Key Takeaway: Sistem anti-drone Pindad menawarkan nilai terbaik dalam konteks pertahanan Indonesia — bukan hanya soal harga beli, tapi total biaya kepemilikan jangka panjang yang jauh lebih rendah dari produk impor.


Top 3 Komponen Sistem Anti-Drone Pindad 2026

Berikut adalah tiga komponen utama sistem anti-drone Pindad yang perlu dipahami oleh siapa pun yang mengikuti perkembangan alutsista nasional.

  1. SPS-1 (Senjata Pelumpuh Senyap Seri 1) — Senjata anti-drone portable terpadu pertama di dunia yang menggabungkan jammer RF dan senjata api kaliber 5,56 mm dalam satu unit yang bisa dioperasikan satu orang.
    • Terbaik untuk: operasi cepat, pengamanan VIP mobile, satuan kecil
    • Soft kill: 500 meter | Hard kill: 150 meter
    • Bertenaga baterai — tidak butuh kabel atau generator
    • Dikembangkan bersama PT Sapta Cakra Manunggal (SCM)
    • Pertama diperkenalkan: HUT ke-79 RI di IKN, Agustus 2024
  2. Maung MV3 Mobile Jammer — Platform anti-drone bergerak berbasis kendaraan taktis Maung 4×4 dengan kemampuan soft kill hingga 3 km dan hard kill hingga 1,8 km menggunakan SMB SM5 A1 kaliber 12,7 mm.
    • Terbaik untuk: operasi lapangan, pengamanan area luas, medan berat
    • Soft kill: 3.000 meter | Hard kill: 1.800 meter
    • Penggerak 4×4 — all-terrain, on-road dan off-road
    • Jangkauan hard kill terpanjang di kelasnya untuk produk dalam negeri Asia Tenggara
    • Kolaborasi Pindad + PT PAL dalam Defend ID
  3. Sectorial Jammer — Perangkat jammer statis terbaru dari ekosistem Pindad yang menyediakan perlindungan area spesifik dengan cakupan frekuensi lebih luas dari mobile jammer.
    • Terbaik untuk: perlindungan objek vital statis, zona larangan terbang permanen
    • Frekuensi kerja lebih banyak dari mobile jammer
    • Digunakan dalam pengamanan Kabinet Merah Putih di Akmil
    • Komponen terbaru — belum banyak data teknis publik tersedia
KomponenSoft KillHard KillMobilitasOperator
SPS-1500 m150 mMan-portable1 orang
Maung MV33.000 m1.800 mKendaraan 4×4Tim
Sectorial JammerArea spesifikStatisMinimal

Lihat juga bagaimana radar AI memprediksikan ancaman musuh untuk memahami bagaimana deteksi awal terintegrasi dengan sistem netralisasi seperti milik Pindad.


Data Nyata: Sistem Anti-Drone Pindad di Praktik

Data: berdasarkan laporan resmi PT Pindad, Defend ID, dan pemberitaan terverifikasi, diverifikasi April 2026.

MetrikData AktualBenchmark Produk Impor SejenisSumber
Jarak soft kill (SPS-1)500 meter300–600 meter (rata-rata global)Pindad resmi, 2024
Jarak soft kill (Maung MV3)3.000 meter2.000–5.000 meterPindad resmi, 2024
Jarak hard kill (Maung MV3)1.800 meter1.000–2.000 meterPindad resmi, 2024
TKDN100%0% (produk impor)Sigit P. Santosa, Pindad
Operator minimum (SPS-1)1 orang2–4 orang (rata-rata)Pindad resmi
Misi operasional berhasilHUT RI IKN, HUT TNI Monas, AkmilPindad, Defend ID
Integrasi soft kill + hard kill1 sistemTidak ada di pasar globalVP Inovasi Pindad
Status: pertama di duniaDiklaim (belum ada sanggahan resmi)Prima Kharisma, Pindad

Tiga misi pengamanan nyata yang sudah dilaksanakan — IKN, Monas, dan Akmil — bukan sekadar uji coba terkontrol. Ini adalah operasi keamanan nasional kelas tertinggi. Keberhasilan di tiga momen berturut-turut memberikan validasi operasional yang lebih kuat dari tes laboratorium mana pun.

Yang juga menarik: Pindad tidak bekerja sendiri. Ekosistem Defend ID — yang menggabungkan PT Pindad, PT PAL, PT DI, PT LEN, dan PT Dahana — memungkinkan integrasi lintas platform yang tidak bisa dilakukan oleh produsen senjata swasta tunggal mana pun.

Untuk perbandingan teknologi C4ISR dalam konteks pertahanan nasional, lihat juga 7 fitur C4ISR LEN Industri pertahanan 2026.

Key Takeaway: Validasi terbaik sistem anti-drone Pindad bukan dari brosur — tapi dari tiga operasi pengamanan nyata di tiga momen kenegaraan terpenting Indonesia sepanjang 2024–2025.


FAQ

Apa perbedaan SPS-1 dan Maung MV3 Mobile Jammer?

SPS-1 adalah senjata anti-drone portable yang dioperasikan satu orang, dengan jangkauan soft kill 500 meter dan hard kill 150 meter — cocok untuk operasi cepat dan satuan kecil. Maung MV3 adalah sistem berbasis kendaraan 4×4 dengan kapasitas lebih besar: soft kill 3 km dan hard kill 1,8 km — ideal untuk pengamanan area luas dan operasi lapangan berat. Keduanya bisa dioperasikan secara terintegrasi sebagai sistem berlapis.

Apakah sistem anti-drone Pindad sudah digunakan secara operasional?

Ya. Sistem ini sudah digunakan dalam tiga operasi pengamanan nyata: upacara HUT ke-79 RI di IKN (Agustus 2024), HUT ke-79 TNI di Monas, dan pengamanan pelantikan Kabinet Merah Putih di Akmil. Ini adalah validasi operasional nyata, bukan sekadar demonstrasi atau uji coba terkontrol.

Apa yang dimaksud dengan soft kill dan hard kill dalam konteks anti-drone?

Soft kill adalah metode melumpuhkan drone tanpa menghancurkannya secara fisik — biasanya menggunakan RF jammer yang memutus sinyal kendali antara drone dan operatornya. Hard kill adalah metode menghancurkan drone secara fisik menggunakan proyektil (peluru). Pindad mengintegrasikan keduanya dalam satu platform, sehingga operator bisa memilih metode yang paling sesuai dengan situasi di lapangan.

Mengapa sistem anti-drone Pindad diklaim pertama di dunia?

Klaimnya spesifik: integrasi senjata soft kill (anti-drone/jammer) dan hard kill (senjata api konvensional) dalam satu kendaraan taktis bergerak sebagai sistem kesatuan. Prima Kharisma, VP Inovasi Pindad, menyatakan “varian kombinasi ini belum pernah dikembangkan sebelumnya di dunia.” Per April 2026, tidak ada sanggahan resmi dari produsen pertahanan global terhadap klaim ini.

Apakah sistem anti-drone Pindad bisa digunakan untuk melindungi bandara atau infrastruktur sipil?

Secara teknis, ya — khususnya Sectorial Jammer yang dirancang untuk perlindungan area spesifik. Namun penggunaannya memerlukan koordinasi dengan otoritas penerbangan (DGCA/ATC) karena jamming frekuensi radio berpotensi mempengaruhi komunikasi penerbangan sipil. Implementasi di infrastruktur sipil membutuhkan protokol khusus dan izin regulasi.

Bagaimana prospek ekspor sistem anti-drone Pindad?

PT Pindad sudah aktif memasarkan produknya ke pasar ekspor. Beberapa negara di Afrika dan Asia Tenggara sudah menunjukkan minat terhadap produk pertahanan Pindad secara umum. Untuk sistem anti-drone, potensi ekspor ke negara-negara yang tidak memiliki akses ke produk AS/Eropa (karena sanksi atau keterbatasan anggaran) cukup terbuka — terutama karena harga yang kompetitif dan klaim keunikan teknologinya.


Referensi

  1. PT Pindad (Persero) — Siaran Pers HUT ke-79 RI: SPS-1 & Maung MV3 Mobile Jammer — diakses 13 April 2026
  2. PT Pindad (Persero) — Maung MV3, SPS-1, dan Sectorial Jammer Dukung Pengamanan Kabinet Merah Putih — diakses 13 April 2026
  3. PT Pindad (Persero) — Pindad Resmikan Lini Baru Fasilitas Produksi Sistem Senjata — diakses 13 April 2026
  4. Tempo.co — Dua Senjata Anti Drone Pindad Menampang di IKN — diakses 13 April 2026
  5. Tempo.co — Bedah Senjata Pemburu Drone Racikan Pindad — diakses 13 April 2026
  6. Jawa Pos — Senjata Anti Drone Produksi Pindad, 100 Persen Karya Anak Bangsa — diakses 13 April 2026
  7. GetNews.co.id — Pindad dan PAL Ciptakan Senjata Anti-Drone Pertama di Dunia dengan Sistem Ganda— diakses 13 April 2026