PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berhasil menyelesaikan restorasi pesawat angkut militer CN235-100M yang sebelumnya berstatus unserviceable atau tidak laik terbang. Pesawat dengan nomor ekor A-2305 ini kini siap memperkuat armada Skadron Udara 27 TNI Angkatan Udara yang beroperasi di wilayah Papua. Program restorasi ini diserahterimakan secara resmi pada 9 Januari 2026 di Hanggar Aircraft Services PTDI Bandung, menandai kebangkitan kembali aset pertahanan vital Indonesia di kawasan timur.

Komandan Komando Pemeliharaan Materiel TNI Angkatan Udara, Marsekal Muda TNI Suryanto, menegaskan bahwa pemulihan pesawat CN235-100M ini sangat krusial mengingat terbatasnya armada angkut di wilayah timur Indonesia. Skadron Udara 27 yang bermarkas di Pangkalan Udara Manuhua, Biak, Papua, menghadapi tantangan besar dalam mendukung operasi militer di medan yang sulit dan luas. Kehadiran pesawat hasil restorasi ini diharapkan dapat segera memperkuat jajaran grup angkut dalam pelaksanaan operasi dan latihan pertahanan.

Program restorasi ini bukan sekadar perbaikan biasa. PTDI menerapkan pendekatan mid-life upgrade yang mengubah kokpit analog menjadi digital kokpit modern, termasuk pemasangan Flight Management System (FMS) terbaru untuk meningkatkan kesadaran situasional pilot. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang program restorasi CN235, spesifikasi teknis pesawat, peran strategis di Papua, dan dampaknya bagi pertahanan Indonesia.

Program Restorasi CN235-100M: Menghidupkan Kembali Aset Pertahanan

CN235 Restorasi PTDI Siap Operasi TNI AU di Papua 2026

Latar Belakang Program Restorasi

Pesawat CN235-100M dengan tail number A-2305 adalah generasi pertama produksi 1994 yang sudah tidak dioperasikan TNI AU bertahun-tahun karena berada dalam kondisi Unserviceable (US). Mengingat usia pakainya yang sudah mencapai lebih dari 30 tahun, pesawat ini membutuhkan overhaul besar atau restorasi menyeluruh melalui Life Extension Program.

Proses restorasi memakan waktu 1,5 tahun dan meliputi pekerjaan basic inspection (3C-check), perpanjangan usia struktur pesawat, pembaruan sistem avionik, rewiring, pengecatan ulang eksterior, hingga refurbishment interior. Semua pekerjaan dilaksanakan di fasilitas PTDI Bandung dengan melibatkan mayoritas sumber daya manusia muda yang menunjukkan transfer pengetahuan teknologi penerbangan kepada generasi baru.

Teknologi Mid-Life Upgrade yang Diterapkan

Program ini menggunakan strategi mid-life upgrade yang fokus pada modernisasi sistem avionik dan kelistrikan, namun tetap mempertahankan struktur dan sistem utama pesawat yang masih layak. Beberapa peningkatan teknologi yang diterapkan:

Konversi Digital Cockpit Baru

  • Transformasi dari sistem analog ke digital modern
  • Meningkatkan efisiensi navigasi dan kontrol penerbangan
  • Interface yang lebih user-friendly untuk pilot

Flight Management System (FMS) Terbaru

  • Sistem navigasi otomatis yang lebih akurat
  • Perencanaan rute penerbangan yang optimal
  • Monitoring konsumsi bahan bakar real-time

Peningkatan Situational Awareness

  • Display informasi yang lebih komprehensif
  • Sistem peringatan dini yang lebih canggih
  • Integrasi data cuaca dan navigasi

Interoperabilitas dengan Sistem Komunikasi Militer

  • Kompatibilitas dengan sistem pertahanan udara modern
  • Koordinasi yang lebih baik dengan unit lain
  • Kemampuan data link untuk operasi gabungan

Sertifikasi dan Kelayakan Terbang

Pesawat angkut taktis ini telah mengantongi Authority Flight Acceptance dari Indonesia Defense Airworthiness Authority (IDAA) pada 6 Januari 2026 sebelum diserahterimakan secara resmi. Sertifikasi ini memastikan bahwa pesawat telah memenuhi standar keselamatan penerbangan nasional dan siap untuk dioperasikan kembali oleh TNI AU.

Proses sertifikasi IDAA mencakup:

  • Inspeksi menyeluruh struktur pesawat
  • Uji fungsi semua sistem avionik
  • Test flight untuk validasi performa
  • Verifikasi kepatuhan terhadap standar airworthiness
  • Dokumentasi maintenance record lengkap

Spesifikasi Teknis CN235-100M Hasil Restorasi

CN235 Restorasi PTDI Siap Operasi TNI AU di Papua 2026

Kapabilitas Angkut dan Performa

CN235 mampu mengangkut muatan hingga 4.700 kilogram atau membawa sekitar 36 penumpang. Untuk varian military transport yang lebih baru seperti CN235-220, kapasitas dapat mencapai hingga 49 pasukan atau 34 prajurit lintas udara dengan max payload 5,2 ton.

Spesifikasi performa utama CN235:

Mesin dan Propulsi

  • Dua mesin turboprop General Electric CT7-9C
  • Masing-masing menghasilkan 1.750 shaft horsepower (SHP)
  • Baling-baling Hamilton Standard HS-14 RF21 (4 bilah)
  • Konsumsi bahan bakar ekonomis

Kecepatan dan Jangkauan

  • Kecepatan jelajah maksimum: 438 km/jam (237 knots)
  • Daya jelajah maksimum: 4.246 km
  • Durasi terbang: hingga 11 jam
  • Ketinggian operasional: hingga 25.000 kaki

Karakteristik STOL (Short Take-Off and Landing)

  • Dapat beroperasi di landasan pendek
  • Mampu mendarat di landasan tidak beraspal
  • Ideal untuk medan Papua yang menantang
  • Fleksibilitas operasional tinggi

Keunggulan Operasional di Medan Sulit

CN235-220 dirancang memiliki kemampuan terbang rendah dengan karakteristik STOL, sehingga dapat beroperasi di landasan pendek maupun tidak beraspal. Kemampuan ini sangat krusial untuk operasi di Papua yang memiliki banyak landasan terbatas di daerah pegunungan dan terpencil.

Keunggulan operasional:

  • Hot and High Performance: Performa optimal di kondisi panas dan ketinggian tinggi
  • Ramp Door: Memudahkan keluar/masuk barang dan personel
  • Rugged Design: Konstruksi tangguh untuk medan berat
  • Low Maintenance Cost: Biaya perawatan yang efisien
  • Multi-mission Capability: Fleksibel untuk berbagai jenis misi

Peran Strategis Skadron Udara 27 di Papua

CN235 Restorasi PTDI Siap Operasi TNI AU di Papua 2026

Profil Skadron Udara 27

Skadron Udara 27 adalah sebuah Skadron udara dari TNI Angkatan Udara yang mengoperasikan CN235, berbasis di Pangkalan Udara Manuhua, Kabupaten Biak Numfor dibawah kendali Komando Operasi Udara III. Skadron ini memiliki motto “Aksi Varutha Pracya Antariksa” yang berarti “Mata dan Perisai Udara dari Timur”.

Skadron Udara 27 menjadi skadron pesawat TNI AU pertama di tanah Papua yang dibentuk pada tanggal 13 Juni 2019 oleh Kepala Staf Angkatan Udara pada saat itu Marsekal TNI (Purn.) Yuyu Sutisna. Pembentukan skadron ini merupakan tonggak sejarah baru TNI AU dalam memperkuat pertahanan di kawasan timur Indonesia.

Kondisi Operasional Sebelum Restorasi

Komandan Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU menyatakan urgensi kehadiran pesawat CN235-100M ini bagi pertahanan negara di wilayah Papua, mengingat kesiapan alutsista Skadron Udara 27 masih sangat terbatas. Keterbatasan armada angkut ini menghambat efektivitas operasi militer dan dukungan logistik di wilayah yang sangat luas dan sulit dijangkau.

Tantangan operasional yang dihadapi:

  • Luasnya wilayah Papua yang harus dijangkau
  • Medan geografis yang ekstrem (pegunungan, hutan)
  • Keterbatasan infrastruktur darat
  • Kebutuhan mobilitas pasukan yang tinggi
  • Dukungan logistik untuk pos-pos terpencil

Misi dan Fungsi Operasional

Kebijakan pemerintah untuk menempatkan skadron pesawat angkut di Papua dimaksudkan untuk efisiensi dan efektivitas dalam operasi pergeseran pasukan tempur, mendukung distribusi logistik untuk menekan disparitas harga, dan dukungan lainnya yang dibutuhkan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Fungsi operasional utama Skadron Udara 27:

Misi Militer

  • Operasi pengangkutan pasukan dan peralatan militer
  • Dukungan latihan tempur dan manuver
  • Mobilisasi cepat dalam situasi darurat
  • Patroli dan pengawasan wilayah udara

Misi Kemanusiaan

  • Operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana di medan sulit
  • Evakuasi medis (medical evacuation)
  • Distribusi bantuan ke daerah terpencil
  • Dukungan untuk masyarakat di wilayah terdepan

Dukungan Logistik

  • Pengiriman kebutuhan pokok ke daerah terisolasi
  • Distribusi bahan bakar dan material
  • Membantu mengurangi disparitas harga di Papua
  • Menjaga kontinuitas pasokan untuk pos-pos TNI

Dampak Restorasi bagi Pertahanan Indonesia

CN235 Restorasi PTDI Siap Operasi TNI AU di Papua 2026

Efisiensi Anggaran Pertahanan

Program restorasi ini dinilai sebagai langkah strategis efisiensi pertahanan. Pesawat yang sebelumnya tidak dapat beroperasi, kini menjalani mid-life upgrade yang mengubah kokpit analog menjadi digital kokpit modern. Restorasi aset yang sudah ada terbukti lebih ekonomis dibanding pembelian pesawat baru.

Manfaat ekonomis program restorasi:

  • Menghemat biaya pengadaan pesawat baru
  • Memperpanjang usia pakai aset 10-15 tahun ke depan
  • Meningkatkan nilai aset pertahanan yang ada
  • Mengoptimalkan investasi sebelumnya
  • Membuka peluang restorasi pesawat lain

Transfer Teknologi dan SDM Lokal

Pekerjaan kompleks restorasi ini dikerjakan oleh mayoritas sumber daya manusia muda di PTDI, menunjukkan keberhasilan transfer pengetahuan teknologi penerbangan militer. Program ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapabilitas untuk melakukan maintenance dan upgrade pesawat militer secara mandiri.

Dampak jangka panjang:

  • Peningkatan kompetensi engineer lokal
  • Kemandirian dalam maintenance pesawat militer
  • Pengurangan ketergantungan pada teknisi asing
  • Membangun ekosistem industri pertahanan nasional
  • Menciptakan lapangan kerja berkualitas tinggi

Penguatan Pertahanan Wilayah Timur

Keberhasilan program restorasi ini memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia di wilayah timur, khususnya Papua yang memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan. Dengan bertambahnya armada operasional Skadron Udara 27, TNI AU dapat merespons lebih cepat terhadap berbagai situasi.

Implikasi strategis:

  • Meningkatkan kesiapan operasional di Papua
  • Memperkuat kedaulatan wilayah perbatasan
  • Meningkatkan kapabilitas respons cepat
  • Mendukung Minimum Essential Force (MEF)
  • Memperkuat postur pertahanan nasional

Konteks Global: Kesuksesan CN235

Pesawat CN235 di Pasar Internasional

CN235 adalah pesawat angkut taktis medium-range twin-engine turboprop yang dikembangkan bersama oleh CASA Spanyol dan IPTN Indonesia (sekarang PTDI). Program CN235 bermula dari kolaborasi sejak 1979, dengan prototipe pertama terbang pada November 1983.

Hingga saat ini, lebih dari 300 CN235 telah diproduksi dalam banyak versi dengan dua mesin General Electric CT7-9C terbaru. Pesawat ini telah diadopsi oleh lebih dari 30 negara di seluruh dunia untuk berbagai keperluan militer dan sipil.

Negara-negara operator CN235:

  • Indonesia (TNI AU, TNI AL)
  • Republik Korea Selatan (20 unit)
  • Prancis (27 unit)
  • Meksiko (8 unit MPA)
  • Pakistan, Malaysia, Turki, dan lainnya

Variasi dan Modernisasi

CN235 telah mengalami berbagai pengembangan sejak pertama kali diproduksi:

CN235-10: Versi produksi awal dengan mesin GE CT7-7A CN235-100/110: Upgrade dengan mesin GE CT7-9C (1.750 SHP) CN235-200/220: Peningkatan struktur untuk bobot operasi lebih tinggi CN235-300: Modifikasi dengan avionik Honeywell CN235 MPA: Varian Maritime Patrol Aircraft CN235 MSA: Maritime Surveillance Aircraft

FAQ: Pertanyaan Umum tentang CN235 Restorasi PTDI

Apa itu program restorasi CN235-100M PTDI?

Program restorasi CN235-100M adalah inisiatif PT Dirgantara Indonesia untuk menghidupkan kembali pesawat angkut militer yang sebelumnya berstatus unserviceable melalui mid-life upgrade. Program ini mencakup perpanjangan usia struktur, pembaruan sistem avionik, rewiring, dan modernisasi kokpit dari analog ke digital. Restorasi selesai dalam waktu 1,5 tahun dan pesawat diserahkan kepada Skadron Udara 27 TNI AU pada Januari 2026.

Mengapa restorasi CN235 penting untuk TNI AU di Papua?

Pemulihan pesawat CN235-100M ini sangat krusial mengingat terbatasnya armada angkut di wilayah timur Indonesia dan kesiapan alutsista Skadron Udara 27 yang masih sangat terbatas. Papua memiliki medan yang menantang dengan banyak daerah terpencil yang hanya dapat dijangkau melalui udara. CN235 dengan kemampuan STOL ideal untuk operasi di landasan pendek dan tidak beraspal di Papua.

Berapa kapasitas angkut CN235?

CN235 mampu mengangkut muatan hingga 4.700 kilogram atau sekitar 36 penumpang untuk varian 100M. Untuk varian CN235-220 yang lebih baru, kapasitas mencapai hingga 49 pasukan atau 34 prajurit lintas udara dengan max payload 5,2 ton. Pesawat ini juga dapat digunakan untuk berbagai konfigurasi misi termasuk angkutan kargo, evakuasi medis, dan operasi kemanusiaan.

Apa keunggulan CN235 dibanding pesawat angkut lain?

CN235 memiliki beberapa keunggulan khusus: kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) untuk beroperasi di landasan pendek dan tidak beraspal; hot and high performance yang baik untuk kondisi tropis dan pegunungan; ramp door untuk memudahkan bongkar muat; biaya operasional dan perawatan yang efisien; serta multi-mission capability untuk berbagai jenis operasi. Pesawat ini terbukti tangguh dan mudah perawatannya.

Berapa lama waktu restorasi dan siapa yang mengerjakan?

Proses restorasi pesawat CN235-100M A-2305 memakan waktu 1,5 tahun. Pekerjaan kompleks ini dikerjakan oleh mayoritas sumber daya manusia muda di PTDI di fasilitas Bandung. Program ini mencakup basic inspection (3C-check), perpanjangan usia struktur, pembaruan sistem avionik, rewiring, pengecatan ulang eksterior, dan refurbishment interior, semuanya dilaksanakan oleh tenaga ahli Indonesia.

Apa saja teknologi baru yang ditambahkan dalam restorasi?

Program mid-life upgrade menambahkan beberapa teknologi modern: konversi digital cockpit baru menggantikan sistem analog lama; Flight Management System (FMS) terbaru untuk navigasi yang lebih akurat; peningkatan situational awareness dengan display informasi yang lebih komprehensif; serta interoperabilitas dengan sistem komunikasi militer modern untuk koordinasi yang lebih baik dengan unit lain dalam operasi gabungan.

Apakah CN235 bisa digunakan untuk misi non-militer?

Ya, CN235 sangat fleksibel untuk berbagai misi. Selain mendukung operasi militer, pesawat yang kini memiliki interior baru ini juga disiapkan untuk operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana di medan sulit. CN235 dapat digunakan untuk evakuasi medis, distribusi bantuan bencana, pengiriman kebutuhan pokok ke daerah terpencil, dan berbagai misi sipil lainnya yang membutuhkan kemampuan angkut di medan sulit.

Baca Juga Robot Humanoid China AI Lethal Weapon PLA 2026

Langkah Strategis Menuju Kemandirian Pertahanan

Keberhasilan PT Dirgantara Indonesia dalam merestorasi pesawat CN235-100M A-2305 menandai pencapaian penting dalam industri pertahanan nasional. Program ini tidak hanya menghidupkan kembali aset pertahanan yang bernilai, tetapi juga membuktikan kapabilitas Indonesia dalam melakukan maintenance dan upgrade pesawat militer secara mandiri.

Tiga Poin Kunci Program Restorasi:

  1. Efisiensi Pertahanan: Restorasi terbukti lebih ekonomis dibanding pengadaan baru, menghemat anggaran sambil memperpanjang usia pakai pesawat 10-15 tahun dengan teknologi modern.
  2. Penguatan Operasional di Papua: Pesawat hasil restorasi memperkuat Skadron Udara 27 yang sebelumnya menghadapi keterbatasan armada, meningkatkan kemampuan respons cepat di wilayah timur Indonesia.
  3. Transfer Teknologi: Pengerjaan oleh SDM muda Indonesia membangun kemandirian nasional dalam teknologi penerbangan militer dan mengurangi ketergantungan pada teknisi asing.

Program restorasi CN235-100M A-2305 adalah contoh nyata bagaimana Indonesia dapat mengoptimalkan aset pertahanan yang ada melalui inovasi dan keahlian lokal. Dengan pesawat ini kembali beroperasi, TNI AU memiliki kapabilitas lebih baik untuk menjaga kedaulatan wilayah, mendukung operasi kemanusiaan, dan melayani masyarakat di daerah terpencil Papua.

Keberhasilan ini membuka jalan bagi program restorasi dan modernisasi aset pertahanan lainnya, memperkuat postur pertahanan nasional sambil membangun ekosistem industri pertahanan yang mandiri dan berdaya saing global.


Tentang Penulis: Artikel ini disusun berdasarkan riset mendalam terhadap sumber-sumber resmi dan kredibel untuk memberikan informasi akurat tentang program restorasi CN235 PTDI dan perannya dalam pertahanan Indonesia.

Sumber Referensi:

  • ANTARA News: “PTDI ‘hidupkan’ kembali CN235 guna perkuat operasi militer di Papua” (2026)
  • Lingkar.news: “Bangkit dari ‘Tidur’, PTDI Restorasi CN235-100M untuk Perkuat Operasi Militer di Papua” (2026)
  • Tempo.co: “Lama Tak Bisa Dipakai, Pesawat TNI AU Ini Siap Terbang Lagi” (2026)
  • Indomiliter.com: “PTDI Tuntaskan Program Restorasi CN-235 100M A-2305 TNI AU” (2026)
  • Indonesian Aerospace (PTDI): Spesifikasi teknis CN235 series
  • Kompas.com: Data spesifikasi dan kemampuan CN235
  • Wikipedia: CASA/IPTN CN-235 (global operators data)