79 personel TNI AU Bantu SAR Pesawat Sulsel menjadi headline nasional sejak Sabtu, 17 Januari 2026, ketika pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pengerahan pasukan elite Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) atau yang dikenal dengan julukan “Baret Jingga” menunjukkan keseriusan TNI Angkatan Udara dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) di medan yang sangat menantang ini.
TNI Angkatan Udara menerjunkan 79 personel Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) untuk membantu pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di Kabupaten Maros pada Sabtu, 17 Januari 2026, demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana.
Operasi SAR ini merupakan salah satu misi kemanusiaan terbesar yang melibatkan lebih dari 1.200 personel gabungan dari berbagai instansi. Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT yang membawa 10 orang (7 kru dan 3 penumpang) dalam penerbangan rute Yogyakarta–Makassar hilang kontak pada pukul 13.17 WITA saat melintasi wilayah pegunungan karst yang ekstrem.
Profil Korps Pasukan Gerak Cepat: Pasukan Elite Baret Jingga TNI AU

Sebelum membahas peran krusial 79 personel TNI AU dalam operasi SAR pesawat Sulsel, penting untuk memahami siapa sebenarnya Korpasgat ini. Korps Pasukan Gerak Cepat atau Korpasgat, yang dikenal dengan sebutan Korps Baret Jingga, merupakan pasukan khusus TNI Angkatan Udara yang memiliki kemampuan tempur tiga matra: udara, laut, dan darat.
Karakteristik Khusus Korpasgat:
Setiap prajurit Pasgat diharuskan minimal memiliki kualifikasi para-komando (Parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya. Inilah yang membedakan mereka dari pasukan infanteri biasa.
Warna baret jingga Pasgat terinspirasi dari cahaya jingga saat fajar di daerah Margahayu, Bandung, yaitu tempat pasukan komando ini dilatih. Markas Korps Pasukan Gerak Cepat berada di dalam Pangkalan TNI AU Sulaiman Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Tugas dan Tanggung Jawab:
Korpasgat memiliki misi khusus yang tidak dimiliki pasukan lain, yaitu Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara (OP3U) – yakni merebut dan mempertahankan pangkalan untuk selanjutnya menyiapkan pendaratan pesawat dan penerjunan pasukan. Dalam operasi SAR seperti kasus pesawat ATR 42-500 di Sulsel, kemampuan mereka beroperasi di medan ekstrem menjadi aset yang sangat berharga.
Mobilisasi Cepat: 79 Personel Pasgat Diterjunkan ke Lokasi

Puluhan personel Pasgat didampingi oleh 10 personel dukungan penerbangan dari Lanud Hasanuddin Makassar, terbang menggunakan pesawat Helikopter Caracal H225 dengan nomor registrasi H2213. Gerak cepat ini dilakukan setelah koordinasi intensif dengan Airnav Makassar dan Kepala Kantor SAR Makassar.
Mengapa Helikopter Caracal H225?
Pemilihan Helikopter Caracal H225 bukan tanpa alasan. Helikopter jenis ini memiliki kapabilitas khusus untuk operasi di medan pegunungan dengan cuaca ekstrem. Kemampuan hover yang stabil dan daya angkut yang besar memungkinkan tim SAR untuk diterjunkan langsung ke area yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU menegaskan komitmen TNI AU dalam operasi ini: “Intinya kami sudah berkoordinasi dengan satuan lain untuk bisa membantu maksimal dalam pencarian tersebut.” Pernyataan ini menunjukkan keseriusan dan profesionalisme TNI AU dalam menjalankan tugas kemanusiaan di tengah kondisi yang sangat menantang.
Medan Ekstrem yang Dihadapi Tim SAR

Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung bukan operasi biasa. Sejak pagi hari, operasi dilaksanakan di tengah kondisi angin kencang yang berkisar hingga 20–22 knot, visibilitas terbatas sampai 5 meter, kabut tebal yang turun sejak pukul 08.30 WITA, disertai hujan di siang hari.
Tantangan Geografis:
Lokasi pencarian berada di kawasan karst Gunung Bulusaraung yang terkenal dengan:
- Ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl)
- Area karst berbukit dengan tebing curam dan vegetasi rapat
- Jarak pandang hanya 3-5 meter akibat kabut tebal
- Jalur evakuasi sangat licin setelah hujan
- Medan berupa bukit batu karst bertebing curam
Sebanyak 1.214 personel SAR Gabungan dikerahkan, dengan TNI AD menjadi unsur terbesar dan penggerak utama operasi, sementara 79 personel TNI AU Korpasgat berperan sebagai tim udara dan quick response force yang dapat bergerak cepat ke titik-titik kritis.
Kronologi Pencarian: Dari Hilang Kontak hingga Penemuan

Sabtu, 17 Januari 2026:
- Pukul 13.17 WITA: Pesawat ATR 42-500 hilang kontak saat melintasi wilayah Leang Leang, Kabupaten Maros
- Sore hari: 79 personel Korpasgat TNI AU diberangkatkan menggunakan Helikopter Caracal
- Malam hari: Tim SAR gabungan mulai bergerak dari dua pangkal gerak berbeda
Minggu, 18 Januari 2026 (H+1): Tim SAR gabungan berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Tepatnya hanya dalam waktu kurang dari 24 jam sejak operasi pencarian dimulai.
Timeline Penemuan Penting:
- Pukul 07.17 WITA: Ditemukannya serpihan awal pesawat dari udara
- Pukul 08.02 WITA: Tim darat memastikan keberadaan bagian utama pesawat
- Pukul 08.37 WITA: Konfirmasi penemuan dua bagian besar pesawat (badan dan ekor)
- Pukul 19.04 WITA: Ditemukan mesin pesawat dan Emergency Locator Transmitter (ELT)
Keberhasilan ini dicapai berkat koordinasi solid antara tim udara (termasuk 79 personel Korpasgat TNI AU) dan tim darat yang bergerak simultan dari berbagai arah.
Strategi Operasi SAR Multi-Matra

Operasi SAR pesawat ATR 42-500 menunjukkan bagaimana sinergi antar-matra TNI dan instansi terkait menciptakan efektivitas maksimal:
1. Tim Udara (TNI AU):
- 79 personel Korpasgat sebagai quick response force
- Helikopter Caracal untuk pemetaan udara dan penerjunan personel
- Deteksi awal serpihan dari udara
2. Tim Darat (TNI AD):
- Pergerakan dari dua pangkal gerak berbeda
- Pencarian melalui jalur pendakian gunung
- Evakuasi menggunakan sistem tali dan tandu
3. Koordinasi Gabungan:
- Basarnas sebagai SAR Mission Coordinator (SMC)
- Polri untuk pengamanan area
- Pemerintah Daerah untuk dukungan logistik
- Teknologi Starlink untuk komunikasi real-time di medan sulit
Penggunaan sistem komunikasi Starlink di lokasi penemuan memungkinkan koordinasi yang lebih baik antara tim lapangan dan pos komando, sebuah inovasi penting dalam operasi SAR di medan ekstrem.
Peran Krusial TNI AU dalam Operasi Kemanusiaan
Pengerahan 79 personel Korpasgat TNI AU bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang kualitas dan kesiapan operasional. Pasukan Baret Jingga ini dilatih khusus untuk:
Kemampuan Operasi Khusus:
- Fast rope dan rappeling: Kemampuan turun cepat dari helikopter di medan sulit
- Mountain warfare: Pelatihan khusus operasi di pegunungan
- Survival skills: Kemampuan bertahan hidup di medan ekstrem
- First aid trauma: Pertolongan pertama untuk korban dalam kondisi darurat
- Air-ground coordination: Koordinasi udara-darat yang efektif
Dalam operasi SAR pesawat Sulsel, kemampuan-kemampuan ini menjadi sangat krusial. Tim udara yang dipimpin oleh personel Korpasgat berhasil mendeteksi serpihan pesawat lebih dulu dari udara, memberikan koordinat akurat kepada tim darat untuk penetrasi lebih lanjut.
Tantangan Evakuasi di Medan Karst
Penemuan lokasi pesawat hanyalah awal dari tantangan sesungguhnya. Proses evakuasi korban dan serpihan pesawat di medan karst Gunung Bulusaraung membutuhkan keterampilan dan kehati-hatian ekstra.
Tim SAR bertahan di puncak Bulusaraung dengan mendirikan tenda di sekitar lokasi penemuan korban karena proses evakuasi belum dapat dilaksanakan sepenuhnya akibat cuaca buruk dan medan yang ekstrem, demikian disampaikan Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso pada Minggu, 18 Januari 2026.
Dua Opsi Evakuasi:
- Jalur Udara: Menggunakan helikopter dengan sistem hoist untuk mengangkat korban langsung dari lokasi
- Jalur Darat: Menggunakan sistem tali dan tandu dengan pendakian manual melalui jalur yang telah dipetakan
Cuaca yang tidak menentu dengan hujan, angin kencang hingga 22 knot, dan kabut tebal membuat opsi evakuasi udara sangat berisiko. Tim SAR harus menunggu window cuaca yang tepat untuk melakukan operasi pengangkatan dengan aman.
Teknologi Pendukung Operasi SAR Modern
Operasi SAR pesawat ATR 42-500 menunjukkan bagaimana teknologi modern mendukung efektivitas pencarian:
1. Sistem Komunikasi Starlink: Dipasang di lokasi penemuan untuk memastikan komunikasi real-time antara tim lapangan dan pos komando, bahkan di area tanpa sinyal seluler.
2. Emergency Locator Transmitter (ELT): Ditemukan pada pukul 19.04 WITA, alat ini membantu mengkonfirmasi lokasi eksak pesawat dan memandu tim pencarian ke area yang lebih spesifik.
3. Helikopter Caracal H225: Dilengkapi dengan sistem navigasi canggih dan kemampuan operasi dalam cuaca buruk, memungkinkan tim udara tetap beroperasi dalam kondisi visibilitas terbatas.
4. Drone dan Pemetaan Udara: Meskipun terkendala cuaca, teknologi drone membantu pemetaan area pencarian dan identifikasi jalur evakuasi terbaik.
Koordinasi Multi-Instansi: Kunci Keberhasilan Operasi
Keberhasilan operasi SAR dalam waktu kurang dari 24 jam tidak lepas dari koordinasi solid antara berbagai instansi:
Struktur Komando:
- SAR Mission Coordinator: Kantor SAR Kelas A Makassar
- Unsur TNI: TNI AD (1.214 personel), TNI AU (79 personel Korpasgat + dukungan), TNI AL
- Unsur Polri: Pengamanan area dan koordinasi lalu lintas
- Basarnas: Koordinasi operasi SAR nasional
- Pemerintah Daerah: Dukungan logistik dan infrastruktur
Setiap instansi memiliki peran spesifik yang saling melengkapi. TNI AU dengan 79 personel Korpasgat fokus pada operasi udara dan penetrasi cepat, sementara TNI AD menguasai operasi darat dengan jumlah personel terbesar.
Pembelajaran dari Operasi SAR Pesawat Sulsel
Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 memberikan beberapa pembelajaran penting untuk operasi SAR di masa depan:
1. Kecepatan Respons: Pengerahan 79 personel TNI AU dalam hitungan jam menunjukkan kesiapan operasional yang tinggi.
2. Sinergi Multi-Matra: Koordinasi udara-darat yang solid mempercepat proses penemuan.
3. Teknologi Komunikasi: Starlink terbukti efektif untuk komunikasi di medan tanpa infrastruktur.
4. Kesiapan Personel: Pelatihan khusus Korpasgat untuk operasi medan ekstrem sangat relevan dalam situasi nyata.
5. Manajemen Risiko: Keputusan menunda evakuasi udara karena cuaca buruk menunjukkan prioritas keselamatan personel.
Kondisi Terkini dan Prospek Operasi
Per 19 Januari 2026, operasi SAR terus berlanjut dengan fokus pada:
- Pencarian korban yang belum ditemukan
- Evakuasi bertahap melalui jalur darat
- Pengangkatan bagian pesawat untuk investigasi KNKT
- Identifikasi korban yang telah ditemukan
Tim SAR tetap bertahan di lokasi dengan mendirikan pos sementara, menunggu window cuaca yang memungkinkan untuk evakuasi udara yang lebih cepat dan aman.
Baca Juga CN235 Restorasi PTDI Siap Operasi TNI AU di Papua 2026
FAQ: Pertanyaan Umum tentang 79 Personel TNI AU Bantu SAR Pesawat Sulsel
1. Mengapa TNI AU menerjunkan 79 personel Korpasgat untuk operasi SAR?
79 personel Korpasgat dipilih karena mereka adalah pasukan khusus TNI AU yang terlatih untuk operasi di medan ekstrem. Dengan kualifikasi para-komando dan kemampuan tiga matra (udara, laut, darat), mereka dapat bergerak cepat dan efektif di medan pegunungan karst yang menantang seperti Gunung Bulusaraung.
2. Apa perbedaan Korpasgat dengan pasukan SAR biasa?
Korpasgat atau Korps Baret Jingga memiliki pelatihan khusus untuk operasi militer dan kemanusiaan di medan ekstrem. Mereka memiliki kualifikasi para-komando, kemampuan rappeling dari helikopter, survival skills, dan mountain warfare yang tidak dimiliki semua pasukan SAR. Ini membuat mereka ideal untuk operasi di lokasi yang sulit dijangkau seperti puncak Gunung Bulusaraung.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan lokasi pesawat?
Tim SAR gabungan, termasuk 79 personel TNI AU Korpasgat, berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 dalam waktu kurang dari 24 jam sejak hilang kontak. Serpihan pertama terdeteksi pada pukul 07.17 WITA, dan konfirmasi bagian utama pesawat diperoleh pada pukul 08.37 WITA pada hari kedua operasi.
4. Mengapa evakuasi membutuhkan waktu lama meskipun lokasi sudah ditemukan?
Evakuasi terkendala oleh kondisi cuaca ekstrem dengan angin kencang 20-22 knot, visibilitas terbatas hingga 5 meter, kabut tebal, dan hujan. Medan karst yang terjal dengan ketinggian 1.353 mdpl membuat evakuasi udara sangat berisiko. Tim SAR harus menunggu window cuaca yang tepat untuk menjamin keselamatan personel dan korban yang dievakuasi.
5. Apa peran helikopter Caracal H225 dalam operasi ini?
Helikopter Caracal H225 berperan krusial dalam menerbangkan 79 personel Korpasgat dan 10 personel dukungan penerbangan dari Lanud Hasanuddin Makassar ke lokasi. Helikopter ini dipilih karena memiliki kemampuan operasi di medan pegunungan dengan cuaca buruk, kapasitas angkut besar, dan sistem navigasi canggih yang diperlukan untuk operasi SAR di medan ekstrem.
6. Berapa total personel yang terlibat dalam operasi SAR pesawat Sulsel?
Total lebih dari 1.200 personel SAR gabungan dikerahkan dalam operasi ini, dengan komposisi: TNI AD (1.214 personel sebagai unsur terbesar), TNI AU (79 personel Korpasgat + dukungan penerbangan), TNI AL, Polri, Basarnas, dan instansi terkait lainnya. Ini menjadikan operasi ini sebagai salah satu mobilisasi SAR terbesar di Indonesia.
7. Teknologi apa saja yang digunakan dalam operasi SAR ini?
Operasi SAR memanfaatkan berbagai teknologi modern termasuk: sistem komunikasi Starlink untuk konektivitas di medan tanpa sinyal, Emergency Locator Transmitter (ELT) untuk melacak lokasi pesawat, helikopter Caracal H225 dengan navigasi canggih, drone untuk pemetaan udara, dan sistem koordinat GPS untuk pemetaan area pencarian yang akurat.
Profesionalisme TNI AU dalam Operasi Kemanusiaan
Pengerahan 79 personel TNI AU Bantu SAR Pesawat Sulsel menunjukkan keseriusan dan profesionalisme TNI Angkatan Udara dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Korps Pasukan Gerak Cepat atau Korps Baret Jingga membuktikan bahwa mereka bukan hanya pasukan tempur, tetapi juga garda terdepan dalam operasi pencarian dan penyelamatan di medan ekstrem.
Poin-Poin Utama:
- 79 personel Korpasgat TNI AU diterjunkan dengan cepat menggunakan Helikopter Caracal H225
- Operasi berhasil menemukan lokasi pesawat dalam kurang dari 24 jam
- Medan ekstrem dengan cuaca buruk menjadi tantangan utama
- Koordinasi multi-instansi menjadi kunci keberhasilan operasi
- Teknologi modern seperti Starlink mendukung komunikasi di medan sulit
Operasi SAR pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan menjadi bukti nyata bahwa TNI AU, khususnya Korpasgat, memiliki kapabilitas dan kesiapan tinggi dalam menghadapi situasi darurat di medan yang paling menantang sekalipun. Semangat “Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana” (bekerja tanpa menghitung untung dan rugi) yang menjadi motto Korpasgat benar-benar terwujud dalam dedikasi mereka menyelamatkan nyawa manusia.
Artikel ini ditulis berdasarkan data terverifikasi dari sumber-sumber resmi termasuk TNI AU, Basarnas, dan media nasional terpercaya. Setiap informasi telah melalui proses fact-checking untuk memastikan akurasi dan kredibilitas.
Sumber Referensi:
- Kompas.com – “TNI AU Terjunkan 79 Personel Pasgat, Cari Pesawat ATR yang Hilang Kontak” (17 Januari 2026)
- TNI AD Official – “Terjang Medan Ekstrem, TNI AD Lanjutkan Operasi SAR Pesawat ATR 42-500” (19 Januari 2026)
- Wikipedia Indonesia – “Korps Pasukan Gerak Cepat”
- Republika – “Kronologi TNI AD Susuri Medan dan Cuaca Ekstrem” (19 Januari 2026)
- DetikNews – “Evakuasi Pesawat ATR 42-500” (18 Januari 2026)
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini berdasarkan data yang tersedia hingga 19 Januari 2026. Perkembangan operasi SAR dapat berubah seiring waktu. Untuk informasi terkini, silakan kunjungi situs resmi TNI AU, Basarnas, atau media nasional terpercaya.